Melaktasi di Tempat Kerja (Worksite Lactation) – bag.2

Secara umum, kegiatan laktasi di tempat kerja meliputi pengeluaran ASI, pengumpulan ASI perah, dan penyimpanan sementara. Juggling tugas-tugas kantor dengan kegiatan laktasi, jelas tidak semudah yang dibayangkan.  Tetapi dengan ketekunan dan kesabaran, tanpa disadari, tahu-tahu anda sudah skillful.  Percaya deh! Nah berikut ini adalah tentang bagaimana menyimpan ASI selama di kantor.

baby bottle

baby bottle

Penyimpanan ASI selama di kantor

  • Simpan ASI di bagian dalam lemari es, bukan di bagian rak yang menempel di pintu.  Mengapa demikian? Karena pintu lemari es sering dibuka-tutup, dan ini menyebabkan suhu di bagian tersebut tidak stabil.
  • Jangan lupa mencantumkan tanggal dan jam pemerahan pada setiap wadah ASI.  Karena biasanya lemari es di kantor adalah ‘milik’ bersama, pastikan juga anda menuliskan nama anda pada wadah ASI anda.
  • Apabila -selama di kantor- anda menyimpan ASI perah dari semua sesi pemompaan/pemerahan dalam satu wadah, maka waktu/jam yang diperhitungkan adalah jam/waktu dari sesi pemerahan yang paling awal.
  • Apabila di kantor anda tidak tersedia lemari es, atau tidak ada lemari es yang dapat anda gunakan untuk menyimpan ASI, simpan saja ASI perah anda dalam tas ASI.  Untuk menjaga suhu ASI perah, anda dapat menggunakan es batu dari warung.  Hanya saja kalau anda menggunakan es batu, anda harus rajin mengganti dengan es yang baru sebelum es yang lama mencair (bisa setiap 1 atau 2 jam sekali, tergantung suhu ruangan anda dan kemampuan tas ASI anda untuk menahan dingin).

Menjaga Supply ASI Perah

Masalah klasik yang dihadapi oleh ibu bekerja yang menyusui adalah stok ASI perah.  Tidak sedikit ibu yang harus kejar setoran untuk menyetok ASI.  Belum lagi tekanan pekerjaan di kantor.  Walaupun sebelum kembali ngantor, anda sudah memberitahu si bos bahwa anda harus memerah ASI setiap 3 jam sekali, tapi terkadang –apalagi ketika kerjaan sedang padat- anda kesulitan untuk memenuhi jadwal memerah.  Gambaran tersebut baru sebagian kecil ‘kerikil-kerikil’ yang dihadapi oleh breastfeeding-working-mom.  Menyusui sambil tetap bekerja penuh waktu memang tricky dan memerlukan tekad serta usaha keras dari anda.  Tapi.., tak perlu merasa discouraged…!  Anda tak sendiri dalam hal ini.  Ada banyak ibu bekerja yang juga menyusui dapat anda ajak untuk berdiskusi, dimintai saran/pendapat, atau bahkan sekedar untuk mengeluarkan uneg-uneg, secara offline maupun online.

Anda memang tidak dapat sepenuhnya menghindari semua masalah yang mungkin muncul, kecuali anda peramal!.  Tetapi dengan melakukan beberapa langkah antisipasi, setidaknya anda dapat meminimalkan dampak dari masalah tak terduga yang muncul.

  • Jangan ragu-ragu untuk menemui ahlinya (pakar laktasi), apabila anda menemui kesulitan.  Sedikit apapun kesulitan itu!
  • Buat persediaan ASI perah jauh-jauh hari sebelum waktunya kembali kerja. Setidaknya 2 minggu sebelum kembali bekerja, anda mulai membuat stok ASI perah.  Langkah ini bukan semata-mata untuk menyetok ASI, tapi juga menjadi ajang latihan memerah/memompa ASI bagi anda.  Dengan demikian, anda tidak kaku lagi ketika nanti memerah/memompa di kantor.
  • Selama anda bekerja (di kantor), usahakan jangan memberikan sufor kepada si kecil karena hal itu akan membuatnya merasa terlalu kenyang sehingga ketika anda sampai rumah ia kurang antusias menyusu.
  • Jangan kaget bila bayi anda lebih sedikit minum di siang hari, dia akan mengkompensasinya ketika anda pulang (lakukan reversed cycling nursing).
  • Sebelum berangkat kerja, susui si kecil sampai ia puas.  Begitu juga ketika anda pulang, segera susui dia secara langsung.
  • Selama anda di rumah – ketika masih cuti ataupun saat akhir pekan– jangan berikan bayi ASI perah, susui langsung saja.
  • Idealnya, ASI harus diperah/dipompa sesuai jadual menyusu bayi, yakni setiap 3-4 jam sekali (lebih baik lagi kalau bisa 2 jam sekali).  Tujuannya adalah untuk mengusahakan tingkat produksi ASI seoptimal mungkin, seperti kalau bayi menyusu langsung.  Cobalah berdiskusi dengan bos anda untuk mendapatkan win-win solution.  Misalnya, anda pulang lebih lambat dari biasanya untuk mengkompensasi waktu yang anda gunakan untuk melaktasi selama jam kerja.
  • Sesampainya di rumah, bagilah ASI perah ke dalam wadah yang lebih kecil.  Simpan ASI dalam jumlah/volume sekali minum si kecil.  Atau, lebih sedikit juga tak apa-apa. Menyimpan atau membekukan ASI dalam jumlah sedikit lebih menguntungkan.  Selain lebih mudah dan cepat untuk mencairkannya, kita hanya mencairkan sejumlah yang dibutuhkan.  Ingat, ASI beku yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan lagi karena akan merusak nutrisi yang ada dalam ASI.
  • Pakar laktasi menganjurkan untuk tidak memberikan ASI perah kepada bayi dengan menggunakan dot/botol, karena dikhawatirkan si kecil bisa bingung puting.  Berikan ASI perah dengan menggunakan sendok.  Tetapi kenyataannya, tiap bayi itu tidak sama.  Ada yang oke-oke saja minum ASI dengan menggunakan sendok, tapi ada juga bayi yang baru mau minum ASI perah lewat dot.  Kalaupun anda terpaksa menggunakan botol/dot, lakukan setelah bayi berusia 2 bulan.  Pada usia ini (< 2 bulan) bayi sudah mendapatkan pola menyusu yang stabil dan dia sudah relatif pintar membedakan puting ibu dengan puting ’palsu’ alias dot.

(EG – 21082007)

==================================================================

Narasumber :

Sisi, a fulltime working mom of 2 little girls, Naya & Sharla.

Anita, a fulltime working mom of 1 girl, Shaista.

Referensi :www.worksitelactation.com

Planning Your Return To Work” dalam www.worksitelactation.com

Breastmilk Collection and Storage for Normal Newborn” dalam 

Materi ASI & Menyusui oleh Luluk Lely Soraya dalam Seminar Pesat 5 Jakarta, 25 Maret 2006

Leave a Reply