Kita dan cita-cita Kartini


23rd of April, 2006.

current issue: kartiniPada 21 April ini kita kembali memperingati Hari Kartini. Kembali kita diingatkan pada semangat dan perjuangan Kartini mengangkat isu-isu kesetaraan laki-laki dan perempuan, memerangi kebodohan dan kemiskinan kaumnya.

Di tengah keterbatasan dan kungkungan tradisi, Kartini tak menyerah dan meratapi keadaannya. Ia memelihara semangat, gagasan, pemikiran dan cita-citanya melalui surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda sampai akhirnya Kartini akhirnya berhasil mendirikan sekolah perempuan di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Kartini memang selalu kritis terhadap pendidikan dan kemajuan bangsa. Bukan hanya kemajuan kaum perempuan, tapi juga kemajuan bangsanya, seperti terlihat pada suratnya, "Dan tidak hanya untuk perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?" (surat 31-1-1901).

Tapi, sementara kita memperingati Kartini berulang kali, cita-cita dan harapan Kartini akan bangsa Indonesia yang sejahtera, bebas dari kemiskinan dan kebodohan, bangsa yang mandiri dan dewasa tak kunjung terwujud. Pendidikan makin mahal sehingga masih banyak anak Indonesia yang tidak mampu bersekolah.

Kita tentunya juga ingin melihat bangsa ini tumbuh sebagai bangsa yang besar, dewasa dan mandiri. Lalu apakah yang bisa kita perbuat untuk bisa membantu mewujudkan cita-cita dan harapan Kartini itu?

Tentunya yang paling mudah adalah mulai dari keluarga kita sendiri. Bagaimana kita menyiapkan dan merancang pendidikan bagi buah hati kita agar mereka tumbuh menjadi manusia yang mandiri dengan kematangan IQ, EQ dan SQ yang baik dan berimbang. Menjadi manusia yang siap menghadapi dan menyiasati berbagai tantangan yang menghadangnya kelak ketika mereka dewasa.  (DR-index)




[Back]

 

 




Foto Minggu Ini
putri 2 th
cape de...
putri 2 th

album : traveling & smailing