Ayo Berbagi Peran, Ayah!


24th of March, 2008.


Para ayah sekarang ini cenderung ingin terlibat dalam perawatan dan pengasuhan anak.
Ayah masa kini ingin bermain petak umpet, main senapan air, meniup gelembung sabun bersama anak-anaknya. Ayah zaman sekarang banyak yang tak merasa gengsi ‘turun’ ke dapur, membantu mencuci atau menyetrika pakaian, ataupun berbelanja keperluan rumah tangga. Tentu ini berita bagus bagi kaum perempuan.

Masalahnya, sejauh mana keterlibatan itu didefinisikan? Belum tentu para ayah mendefinisikan ‘keterlibatan’ sama seperti yang diinginkan oleh kaum ibu. Kebanyakan, para ayah memosisikan diri sebagai ‘asisten’ ibu, bukannya inisiator. Lama-lama capai juga kan kalau harus terus minta tolong?! Sesekali (atau sering kali?) Anda pun ingin ia yang berinisiatif menangani si kecil atau pekerjaan rumah tangga tanpa diminta. Lalu, bagaimana caranya agar para ayah lebih berperan aktif? Anda memang tak bisa mengharapkan ia mendadak berubah. Tapi, setidaknya ada trik-trik yang bisa Anda lakukan untuk membuatnya lebih aktif dan – siapa tahu – bergeser dari sekadar asisten menjadi insiator.

Libatkan sang calon ayah selama kehamilan. Melibatkan di sini bukan sekadar mengantarkan Anda ke dokter untuk check-up bulanan atau memintanya memenuhi selera ngidam Anda. Meski calon bayi bertumbuh dalam tubuh Anda, ingatlah bahwa ia bukan ‘milik’ Anda seorang. Beri pasangan Anda kesempatan lebih besar untuk ‘menikmati’ kehamilan ini. Dan, ada banyak cara untuk itu. Misalnya, ajak ia untuk mengetahui lebih dalam tentang perkembangan janin dalam rahim. Kalau pasangan Anda bukan tipe orang yang gemar membaca, tak perlu kecil hati. Untuk sementara, Andalah yang mesti rajin memberinya informasi seputar kehamilan. Tak perlu meluangkan waktu khusus untuk itu, Anda bisa melakukannya sewaktu bersantai berdua atau di mobil sepanjang perjalanan berangkat-pulang kantor. Anda bisa memulainya dengan, “Yang, tahu ngga...janin di dalam rahim pun udah bisa tersenyum lho. Ada gambarnya di buku yang aku beli kemarin...” Sembari, di rumah Anda tetap menaruh majalah atau referensi lain yang Anda punya di tempat-tempat yang selalu terlihat olehnya.

Bagilah kesenangan mempersiapkan kehadiran si kecil bersama pasangan. Apabila ia punya ide seputar pengaturan kamar bayi, sambut ide tersebut. Atau, kalau ia berinisiatif membeli perlengkapan bayi, tunjukkan apresiasi Anda (meskipun mungkin Anda kurang sreg dengan model atau pilihan coraknya). Jangan biarkan hal-hal yang tidak prinsip, seperti pilihan model boks bayi atau warna dinding kamar bayi, menjadi sumber perdebatan yang malah bisa mengurangi kesenangan dan kedekatan Anda berdua. Kompromikan ide dan selera Anda dan pasangan. Jika Anda punya rutinitas mengoleskan losion atau baby oil pada perut sebelum tidur, mintalah pasangan Anda yang melakukannya. Kegiatan simpel ini bisa membuat sang calon ayah merasa lebih dekat dengan calon bayinya karena ia dapat merasakan langsung pergerakan janin. Sebagai bonusnya, hal ini juga dapat meningkatkan kemesraan Anda berdua.

Beri ayah kebebasan dalam merawat si kecil. Kita ingin ayah ikut aktif mengurus si kecil, tapi –tanpa sadar dan lebih menjadi semacam refleks– kita ‘mengritik’ gayanya dalam menangani bayi. “Jangan seperti itu membedongnya...”, “Diaper-nya kurang kencang nih...”,  “Si Dede ngga suka digendong seperti itu...”, “Pakai baju yang ini aja, jangan yang itu...”, masih banyak kritik-krtitik kecil yang kita lontarkan. Maksud kita sih baik, ingin menunjukkan cara yang benar. Tapi pesan yang diterima para ayah bukan seperti itu. Sangat mungkin mereka berpikir, kita tidak mempercayai kemampuan mereka dalam merawat bayi. Mereka menjadi kurang pede dan berpikir: yah..., buat apa repot-repot, toh yang saya lakukan juga dianggap salah.... Suka atau tidak suka, harus kita akui bahwa standar ganda yang kita munculkan itu ikut berperan membuat para ayah cenderung memilih terima bersih saja.  

Sebaiknya jangan tuntut ayah untuk mengikuti setiap detail perawatan bayi seperti yang Anda lakukan. Berilah ia kesempatan untuk mengembangkan gayanya sendiri. Yang penting nyaman bagi sang ayah ketika melakukannya, nyaman dan aman pula bagi si kecil. Tentu saja butuh waktu bagi keduanya (ayah dan si kecil) untuk mendapatkan ritme yang pas. Sama halnya seperti menyusui. Baik Anda maupun si kecil sama-sama belajar saling menyesuaikan diri. Lagipula, menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup.

Duduk dan bicarakan bersama. Kedengarannya memang klise dan ‘by the book’ sekali. Tapi jangan pesimis dulu sebelumnya mencobanya. Kenyataannya, kehadiran bayi memang mengubah hidup Anda berdua. Membicarakan yang mengganjal di hati masing-masing akan memudahkan Anda berdua melalui fase baru dalam kehidupan pribadi maupun perkawinan Anda. Utarakan apa yang Anda harapkan dari pasangan, dan dorong ia untuk melakukan hal yang sama. Anda juga bisa menanyakan jenis tugas apa dalam perawatan bayi yang paling ia sukai dan paling tak ia sukai. Catatlah kalau perlu, dan jadian catatan itu sebagai kesepakatan tertulis.

Banyak ayah yang tak tahan kalau harus membersihkan BAB bayi. Ketimbang tugas yang satu ini, mereka lebih memilih mengerjakan tugas lain yang lebih berat. Walaupun mungkin menurut Anda kejijikannya terhadap ‘bagian’ dari darah dagingnya sendiri itu kurang masuk akal, tak usah memaksa. Berilah alternatif tugas yang lain, sambil tetap dengan manis membujuk ayah untuk mau melakukannya di lain waktu. Sesekali, perlu juga Anda melatihnya. Saat mendekati jadwal BAB-nya, titipkan si kecil dalam pengawasan sang ayah. Sibukkan diri Anda dengan hal lain (belanja ke supermarket, misalnya) sehingga ketika bayi buang air, mau tak mau ayah harus membersihkannya.

Berangkat dari ketiga trik tersebut, Anda bisa berimprovisasi sendiri. Pendeknya, kalau Anda berharap pasangan punya inisiatif lebih, Anda juga harus memberinya kepercayaan lebih. Semakin ayah percaya diri, semakin bersemangat pula ia melibatkan diri. Gaya pengasuhan ayah memang berbeda dari ibu. Tapi justru perbedaan gaya ini akan memperkaya psikologis si kecil. Penelitian membuktikan bahwa peran aktif ayah –yang notabene berbeda dari ibu– berpengaruh sangat positif terhadap perkembangan emosi anak. (EG, terinspirasi dari Memahami Tangisan Bayi oleh Sheila Kitzinger, 2008, Esensi–Erlangga Group, Jakarta)





[Back]

 

 




Foto Minggu Ini
neng najmi 3 bulan
dukun harsya
neng najmi 3 bulan

album : harsya