ASI Eksklusif dan Ibu Bekerja Print E-mail
Bekerja penuh waktu tapi tetap memberikan ASI eksklusif, why not?? Ya, mengapa tidak?  Meski tak bisa dinafikan, dibandingkan full-time moms atau work-at-home moms, ibu yang bekerja di luar rumah sudah tentu perlu usaha ekstra untuk bisa sukses memberikan ASI eksklusif.  Namun, kalau anda menguasai manajemen ASI dengan baik, niscaya segalanya akan berjalan smooth.  Pekerjaan di kantor beres, pasokan ASI untuk si kecil pun selalu terjaga.

Pada prinsipnya, pemberian ASI dapat diberikan secara langsung maupun tak lansgung.  Pemberian secara langsung, sudah jelas dengan cara menyusui.  Sedangkan pemberian ASI secara tak langsung dilakukan dengan cara memeras/memompa ASI, menyimpannya untuk kemudian diberikan kepada bayi.  Nah, ibu bekerja yang bertekat memberikan ASI eksklusif seharusnya menguasai pengetahuan tentang semua itu.  Yang tak kalah penting dari penguasaan teknik-teknik worksite lactation adalah persiapan diri yang dilakukan oleh ibu.

Sudah banyak yang membuktikan, bahwa kunci keberhasilan ASI eksklusif bagi ibu bekerja adalah manajemen ASI yang baik.  Manajemen ASI disini bukan hanya seputar teknik laktasi di tempat kerja, namun juga meliputi bagaimana ibu menyiapkan diri dan lingkungannya sebelum ia kembali bekerja.  Mengapa perlu menyiapkan lingkungan segala? Karena adanya support system akan sangat membantu kelancaran program ASI eksklusif. 

Siapkan mental, cari dukungan
Tingkatkan motivasi diri, minta dukungan penuh suami.  Lebih baik lagi kalau berhasil mendapatkan support dari orangtua dan mertua (terbayang senangnya, kan......).  Tapi yang lebih penting dari itu, yakinlah bahwa anda bisa! Buang jauh-jauh kekhawatiran yang belum terbukti, such as....volume hasil perasan, atau, si kecil mau minum ASI peras ngga ya? dll, dsb.  Ingat! Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu, lho....  Berkonsultasi dengan konsultan laktasi juga akan sangat membantu.  Kalau anda menguasai teknik laktasi secara benar, dengan sendirinya anda akan semakin percaya diri dan lebih termotivasi.

Sebaiknya sebelum mulai bekerja kembali, anda menginformasikan kepada atasan bahwa anda sedang memberikan ASI eksklusif.  Tegaskan (dengan cara yang manis, tentu saja!) dan minta pengertian si boss, bahwa anda harus memeras ASI beberapa kali selama jam kerja.  Di Indonesia memang belum banyak kantor yang menyediakan ruang khusus untuk melaktasi.  Kalau kebetulan tempat kerja anda tidak punya ruang laktasi, anda bisa meminta ijin bos untuk menggunakan salah satu ruangan – ruang rapat, misalnya – yang sedang tidak dipakai, untuk memeras ASI.  Syukur-syukur kalau malah kemudian si bos menjadi terinspirasi membuat ruang khusus laktasi bagi karyawan.

Kalaupun ternyata permohonan anda itu tidak dapat diakomodasi oleh kantor, tak perlu kecil hati.  Banyak ibu bekerja yang mengalami kendala serupa sehingga membuat mereka ’terpaksa’ memeras ASI di toilet.  Ini memang bukan kondisi ideal, tapi walaupun anda melakukannya di toilet, selama proses pemerasan dilakukan dengan benar, tak perlu takut ASI terkontaminasi. 

Siapkan Pengasuh si Kecil
Menemukan pengasuh yang tepat bagi si kecil bisa dibilang gampang-gampang susah.  Bagaimana mungkin anda bisa tenang bekerja kalau terganggu dengan urusan pengasuh ini.  Karena yang dikhawatirkan dari dampak keresahan/ketidaktenangan itu adalah terganggunya produksi ASI anda.
Idealnya sih begitu pulang dari rumah bersalin, anda sudah memiliki pengasuh.  Dengan demikian, anda punya banyak waktu untuk mentransfer pengetahuan dan batasan-batasan yang anda inginkan dalam perawatan si kecil kepada sang pengasuh, serta untuk menilai kualitas kerjanya.  Tapiii..., kalau kondisi ideal ini sulit dicapai, usahakan setidaknya 1 bulan sebelum anda kembali ke kantor, sang pengasuh sudah ada.  Tentu anda akan merasa lebih tenang lagi, kalau orangtua/mertua/salah satu kerabat bisa membantu mengawasi selama anda di kantor.  Seandainya tidak ada pun, tak apa-apa.  Itu sebabnya, penting sekali membangun kepercayaan antara anda dan pengasuh si kecil.

Babysitter .  Umumnya, babysitter memiliki tingkat pendidikan yang memadai (minimal SMP).  Selain itu, mereka juga sudah punya pengetahuan dasar tentang baby-care sehingga kita (orangtua) tak perlu mengajarinya dari nol.  Kelebihan lainnya, ada pihak lain yang memantau kerja babysitter karena umumnya mereka berada dalam yayasan khusus.  Meski demikian kelebihan yang satu ini juga bisa menjadi kelemahan.  Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak juga yayasan yang tidak bertanggungjawab.  Perlu effort tersendiri untuk memilih yayasan babysitter yang kredibel.   Kekurangan lainnya (kalau ini bisa dianggap sebagai kekurangan) adalah gajinya yang relatif  tinggi, ditambah lagi dengan biaya administrasi yang harus dibayarkan kepada yayasan.  Meski sudah punya dasar pengetahuan baby-care, pastikan sang babysitter menguasai pengetahuan seputar ASI peras, terutama yang berkaitan dengan penyimpanannya, dan tata laksana pemberian ASI kepada bayi.

Pembantu rumah tangga. Standar gajinya memang lebih rendah daripada babysitter.  Namun, anda tidak bisa menuntut pembantu seterampil babysitter dalam mengurus bayi, karena mereka (pembantu) memang tidak dibekali ilmu tersebut.  Kalau anda memutuskan untuk mempekerjakan pembantu rumah tangga sebagai pengasuh si kecil, anda harus meluangkan banyak waktu mengajarinya lebih banyak hal tentang baby-care maupun penanganan ASI perah. Atau malah, bisa saja anda harus mengajarinya dari nol.  Sabar dan jangan bosan memberikan contoh sebanyak-banyaknya.  Selain contoh, sebaiknya buatkan juga semacam pedoman tertulis yang akan mudah ia pahami.(EG: July 2007)

Artikel terkait :
Melaktasi di tempat kerja (Worksite Lactation) Susahnya ASI Eksklusif
 




Foto Minggu Ini
Lagi Bobo
Ini fotoku waktu umur 2 hari. jangan ganggu boboku ya....
Lagi Bobo

album : Devin Avery Handoko