ibudananak - Let's care and share

Inspirasi

hardiknas

Pendidikan Terbaik adalah Masa Depan Bangsa

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Nelson Mandela, former president of South Africa, 1993 Nobel ...

kesehatan ibu

Banjir

Waspadai Penyakit saat Banjir

Menurut BMG bencana banjir akan melanda Jakarta dan beberapa kota di Indonesia. Tak hanya harus meng...

tumbuh kembang

kids

Serba-serbi Berat Badan si Kecil

Dibandingkan hal-hal lain, para ibu baru lebih khawatir akan berat badan bayinya.  Wajar saja, sebab berat badan merupakan salah satu indi...

dunia anak

bright smiles, healthy children

Bila Buah Hati Bunda Sakit Gigi

Reqgi First Trasia, dr.   Sakit gigi sangat umum dialami anak-anak.  Anak yang giginya berlubang akan merasa nyeri saat mengunyah mak...

ibu bekerja

baby bottle

Melaktasi di Tempat Kerja (Worksite Lactation) – bag.2

Secara umum, kegiatan laktasi di tempat kerja meliputi pengeluaran ASI, pengumpulan ASI perah, dan penyimpanan sementara. Juggling tugas-t...

Pendidikan Terbaik adalah Masa Depan Bangsa

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Nelson Mandela, former president of South Africa, 1993 Nobel Peace Prize laureate.

ki-hajar-dewantara

Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Kita tahu bahwa pendidikan adalah fondasi keberhasilan suatu bangsa. Lalu bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini? Apakah sesuai dengan harapan kita?

Kami berbincang dengan beberapa pengajar tentang perkembangan pendidikan di Indonesia. Berikut beberapa hal yang menarik untuk dicermati, berupa inspirasi, kebanggaan maupun keprihatinan mereka.

Pendidikan yang ideal untuk anak itu yang seperti apa?

Indah :

Pendidikan yang ideal untuk anak itu adalah yang berdasarkan kebutuhan anak. Melihat siswa sebagai individu seutuhnya. Bahwa setiap anak dilahirkan berbeda dengan keunikan dan kecerdasannya masing-masing. Jadi, kurikulum yang dibuat hendaknya mempertimbangkan dan mencakup multiple intelligences. Hal yang terpenting adalah mengedepankan pendidikan karakter dan life skills, tanpa mengesampingkan segi akademis.

Melani :

Pendidikan yang ideal utk anak itu tergantung umur, namun yang penting anak merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolahnya. Hal itu meliputi ruangan kelas, lingkungan sekolah dan juga tenaga pengajarnya. Teaching aid nya pun harus diperhatikan, karena untuk anak umur 2-5 th harus menggunakan teaching aid yg real. Hal ini diperlukan karena mereka belum bisa membayangkan atau berpikir secara konkrit, sehingga perlu melihat contoh nyata.

Apakah yang membedakan pendidikan kurikulum nasional dengan internasional?

Indah :

Dari workshop yang pernah saya ikuti maupun pengalaman mengajar di sekolah yang mengadopsi kurikulum internasional, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara kurikulum nasional dan kurikulum internasional.

Kurikulum nasional lebih Teacher-centered learning,  Di mana guru yang dominan dalam kegiatan pembelajaran. Belum lagi muatan kurikulum yang dicakup dalam kurikulum nasional terasa membebani siswa. Terkadang anak-anak SD ‘terpaksa’ mempelajari topik-topik yang kurang applicable dan terlalu tinggi tingkatannya untuk anak-anak seumuran mereka.

Kurikulum internasional lebih Student-centered learning, di mana siswa benar-benar dilibatkan dalam pembelajaran. Siswa secara aktif belajar dari berbagai sumber pembelajaran yang tersedia seperti internet, outdoor activity, dan lain-lain. Selain itu konsep yang seringkali diterapkan adalah problem-based learning atau contextual teaching-learning, di mana siswa akan mempelajari suatu topik yang terkait dengan permasalahan dan konteks kehidupan yang dihadapi sehari-hari. Kurikulum internasional juga bersifat integrated learning di mana satu mata pelajaran akan terkait dengan mata pelajaran lainnya.

Melani :

Kurikulum nasional yang ditetapkan pemerintah kadang memang berubah-ubah, itu yang masih sedikit membingungkan. Dan terkadang harus sesuai dengan text book, padahal setiap anak punya pola pikir yg berbeda. Justru pola pikir yg berbeda itu yang harus dikembangkan.
Kurikulum internasional itu lebih open minded, lebih mengembangkan pola pikir anak yang luas, lebih menantang si anak dan tidak terkotak kotak. Menstimuli anak untuk mencari informasi tentang sebuah topik.
Namun keduanya pun bagus jika diambil sisi positifnya, kan tidak semua anak punya kesempatan sekolah di sekolah internasional.

Kualitas manusia seperti apa yang ingin dicapai oleh sistem pendidikan nasional ?

Siti Djumhuriah :

Kualitas manusia yg ingin dicapai adalah yg memiliki sikap spiritual dan sosial yg baik, juga memiliki kompetensi pengetahuan dan keterampilan yg baik, oleh sebab itu kurikulum nasional lebih mengedepankan pendidikan karakter.

Apa pandangan Anda terhadap kurikulum pendidikan yang berganti-ganti?

Siti Djumhuriah :

Sebenarnya kurikulum yang terakhir adalah kurikulum 2004 dan suplemen tahun 2006. Perubahan kurikulum baru ada pada tahun Jadi sebenarnya tidak sering ganti-ganti, itu hanya pandangan sebagian orang. Kurikulum memang harus selalu up to date, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat ini

Bagaimana keterampilan pendidik saat ini dalam memberikan pendidikan yang berkualitas?

Melani :

Beberapa sekolah mungkin tenaga pendidiknya sudah bagus, walaupun ada juga beberapa yang belum. Kembali lagi kepada pribadi tenaga pendidik tersebut, apakah dia ramah, sabar, sayang anak, mudah terpicu emosi, atau bahkan hanya mengejar pendapatan saja.
Sebenarnya hampir  semua tenaga pendidik pasti sudah mendapatkan pelatihan, namun untuk terjun langsung di lapangan merupakan tantangan tersendiri. Tenaga pendidik itu diharapkan sekreatif mungkin, tidak monoton, bisa “membaca” anak didiknya dalam artian mengetahui kebutuhan anak didiknya.Hal ini kembali lagi ke umur
anak-anak yang dididiknya, karena tiap level itu berbeda cara mengajarnya.

Tenaga pendidik pun harus tahu cara menangani anaknya, karena tidak gampang loh mengajar anak orang lain.

Tantangan tenaga pendidik lainnya adalah mampu menjawab apakah yang diajarkan bisa diserap anak-anak dengan cepat? Ada anak-anak yang memiliki daya tangkap yang baik, ada juga yang kurang baik. Maka selain kreatif, tenaga pendidik pun harus berwawasan luas.

Bagaimana pendidikan informal dapat mendukung pendidikan formal?

Widyawati :

Tidak  semua anak mengerti apa yang dijelaskan oleh pengajar di sekolah. Pendidikan informal membantu anak untuk mengatasi hal tersebut sehingga mereka bisa menunjukkan performa yang lebih baik di sekolah. Selain itu, pendidikan informal umumnya terdiri dari kelompok kecil atau private, sehingga anak anak cenderung lebih percaya diri untuk membahas atau menanyakan hal yang tidak mereka mengerti.

Kualitas apa yang masih kurang pada anak-anak Indonesia? Bagaimana mereka bisa mendapatkannya?

Widyawati :

Saya tinggal dan mengajar di kota besar, anak-anak yang saya ajar juga dari kalangan menengah ke atas. Saya sering menemukan kurangnya penghargaan atau rasa hormat mereka terhadap orang lain. Namun kelebihan mereka adalah rasa keingintahuan yang tinggi dan kemampuan berpikir kritis, umumnya mereka juga percaya diri.

Indah :

Muatan kurikulum di Indonesia seringkali mengabaikan nilai-nilai moral, maka seringkali dihasilkan lulusan yang hanya mementingkan pencapaian akademis. Yang pada akhirnya mau menghalalkan segala cara agar meraih nilai yang tinggi. Padahal nilai tinggi bukanlah tolok ukur bahwa seorang individu berkualitas. Miris rasanya melihat banyaknya media yang memaparkan betapa bobroknya moral anak negeri ini. Mereka yang dengan bangga merokok padahal masih berseragam putih merah, tidak malu dan segan lagi memamerkan kemesraan di depan publik yang seharusnya belum pantas dilakukan oleh anak-anak seumur mereka, aksi bullying yang merajalela, yang menciptakan lingkaran setan, di mana si korban pada akhirnya akan belajar untuk menindas yang lemah, mencontek berjamaah yang seringkali dilegalkan oleh sekolah mereka sendiri, serta ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Sad but that’s the fact. Kondisi ini hanya bisa berubah jika pemerintah, guru dan orang tua bekerja sama untuk menata sistem pendidikan di Indonesia.

Pemerintah harus mulai menggodog kurikulum berbasis pendidikan karakter, para guru juga harus berbesar hati meningkatkan kemampuan dirinya agar dapat menyampaikan pembelajaran yang efektif dan bermartabat, dan orang tua harus benar-benar menyadari bahwa dasar dari pendidikan adalah dari rumah, sehingga mereka harus membekali anak-anak mereka dengan pendidikan karakter dasar, agar anak-anak Indonesia menjadi individu yang berkualitas, secara akademik dan karakter.

Dukungan seperti apa yang sehausnya diberikan oleh orangtua agar anak-anak dapat berprestasi?

Indah :

Jawabannya klise, tapi memang benar adanya, yaitu dukungan moril dan materil. Orang tua berperan besar dalam memotivasi anak agar berprestasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan kemajuan belajar anak, melengkapi fasilitas belajar anak sesuai kebutuhannya, membantu mengatur jadwal belajar anak, memberlakukan sistem reward ketika anak mencapai prestasi melampaui apa yang bisa ia lakukan dengan effort-nya, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.Ketika orang tua tidak mau berperan dalam pendidikan anak, atau bersikap acuh tak acuh atau bahkan sebaliknya terlalu memanjakan anak, maka besar kemungkinan anak tidak akan mencapai prestasi sesuai dengan yang diharapkan.

Satu hal terpenting, setiap orang tua pasti memiliki harapan akan hasil dari pendidikan anaknya. Tapi sangat tidak bijaksana jika orang tua memaksakan harapan ini pada anak-anaknya. Menjalin komunikasi dua arah yang baik dengan anak sangat penting agar anak dapat mencapai prestasi tanpa ada keterpaksaan dan tidak merasa terbebani dengan harapan orang tua.

Bagaimana peran pemimpin lokal/komunitas dalam mendukung pendidikan?

Siti Djumhuriah :

Saat ini pemimpin lokal sangat mendukung pendidikan, ditunjukkan dengan berbagai program dan kegiatan yang mendukung terlaksananya pendidikan karakter.

Harapan untuk pendidikan Indonesia ke depan?

Widyawati :

Kurikulum pendidikan di Indonesia seharusnya merata.  Setiap daerah di indonesia mempunyai potensi pendidikan yang baik tetapi kurikulumnya terkadang tidak mendukung potensi daerah setempat.

 

Masih banyak tantangan yang kita hadapi untuk mencerdaskan bangsa. Dunia pendidikan Indonesia butuh mereka, kami, dan Anda untuk menjadi lebih baik. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016.

 

guru

Bila Buah Hati Bunda Sakit Gigi

Reqgi First Trasia, dr.

 

Sakit gigi sangat umum dialami anak-anak.  Anak yang giginya berlubang akan merasa nyeri saat mengunyah makanan.

Kasus terbanyak adalah kasus gigi berlubang. Kuman-kuman hidup dan berkembang pada gigi berlubang. Selama rasa nyeri itu ada, anak pun akan menolak setiap diberi makan. Jika hal itu terus berlanjut, asupan gizinya pun jadi berkurang. Kesehatan tubuhnya jadi terganggu dan proses tumbuh kembangnya dapat terhambat.

Menjelang tumbuhnya gigi-gigi susu, biasanya bayi mengalami rasa gatal pada gusinya. Hal itu sebenarnya cukup wajar dan alamiah. Adakalanya rasa gatal itu membuat bayi rewel dari biasanya. Namun setelah gigi susunya muncul, rasa gatal itu akan menghilang.

Pada bayi yang gigi susunya hendak tumbuh, berilah ia teether, yakni mainan yang dapat digigit. Teether terbuat dari bahan yang kenyal dan berisi air di dalamnya. Pemberian finger food (makanan kecil yang dapat dipegang tangan) juga dapat membantu merangsang pertumbuhan giginya, sekaligus mengurangi rasa gatal pada gusinya.

babyteethTumbuhnya gigi susu pertama akan berbeda-beda pada setiap anak. Ada yang pada usia 4 bulan sudah tumbuh gigi pertamanya. Ada pula yang lebih dari usia itu. Begitu giginya tumbuh, orang tua bertanggungjawab membersihkannya secara rutin. Caranya, mengelap secara perlahan giginya dengan sapu tangan bersih yang dicelupkan pada air hangat. Pada anak yang telah diberi MPASI, berilah ia minum air putih setelah makan. Hal ini untuk meminimalisir sisa makanan yang menempel di gigi.

Gigi susu yang sehat sangat diperlukan ketika anak belajar mengunyah, berbicara dan tersenyum. Gigi susu yang sehat juga untuk memastikan gigi permanennya akan muncul secara normal. Untuk itu, ajari anak melakukan rutinitas menggosok gigi secara benar sedini mungkin. Dengan begitu, ketika giginya sudah lengkap, kira-kira sekitar usia 2 tahun atau lebih, ia sudah terbiasa menggosok gigi.

Dengan menggosok gigi, pengeroposan maupun penimbunan plak gigi dapat dihindari. Gosok gigi yang baik dilakukan minimal 3 kali sehari, setelah makan dan menjelang tidur. Agar ia senang menggosok gigi, ajak anak memilih sendiri sikat gigi dan pasta gigi yang sesuai dengan seleranya. Namun harus tetap sesuai untuk anak seusianya.

Bawalah anak ke dokter gigi untuk pertama kalinya saat ia berusia sekitar satu tahun. Hal ini sebagai langkah pencegahan yang bermanfaat bagi perawatan kesehatan giginya. Melalui dokter gigi, Anda akan tahu apakah pertumbuhan gigi anak normal dan wajar. Apakah ada tanda-tanda awal pembentukan plak dan gigi busuk. Dokter gigi pun akan memastikan apakah gigi, mulut, kerongkongan, dan tenggorokan anak Anda terbentuk dengan benar.

 

Beberapa langkah berikut dapat diterapkan untuk mendukung upaya pencegahan agar anak terhindar dari gigi berlubang:

  1. Membatasi jumlah gula yang dikonsumsi anak, termasuk permen
  2. Pada anak yang diberi susu formula, jangan biarkan dotnya tetap berada dalam mulut sekitar 1 jam. Hal tersebut dapat menyebabkan gigi berlubang
  3. Lebih baik berikan camilan berupa buah-buahan daripada makanan manis
  4. Bila anak haus di antara waktu makan, biasakan memberi air putih daripada minuman yang diberi pemanis
  5. Sebaiknya peralatan makan anak disediakan khusus dan tidak berbagi pemakaian dengan anggota keluarga yang lain. Misalnya jika Anda perlu mencicipi makanannya atau dia mau mencoba makanan yang Anda konsumsi, gunakan sendok berbeda. Hal ini untuk menghindari kemungkinan kuman-kuman masuk dan menyerang giginya.

 

Referensi:

  1. Bailit HL. 2000. The Prevalence of Dental Pain and Anxiety: their relationship to quality of life. New York State Dental Journal; 53: 27-30 [Pubmed: 347725]
  2. Linnett V, et al. 2002. Dental erosion in children: a literature review. Pediatric Dentistry; 23: 37-43 [PubMed: 11242729]
  3. Mathiesen AT, et al. 2001. Oral hygiene as a variable in dental caries experience in 14-years old exposed to fluoride. Caries Research; 30: 29-33 [PubMed: 8850580]
  4. Moynihan P, et al. 2004. Diet, nutrition and the prevention of dental diseases. Public health and nutrition: 7; 201-226